Fish

VIDEO PEMBELAJARAN

Loading...

Rabu, 20 Juni 2012

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP INTEGRAL


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP INTEGRAL

Media Harja - 20112512023


A.     LATAR BELAKANG

            Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.  Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mengingat pentingnya  peranan  matematika  ini, upaya untuk meningkatkan sistem pengajaran   matematika  selalu   menjadi   perhatian, khususnya   bagi   pemerintah   dan    ahli pendidikan matematika.  Salah satu upaya nyata yang telah dilakukan pemerintah terlihat pada penyempurnaan kurikulum matematika. Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Menurut Depdiknas (2006) Salah satu tujuan KTSP pelajaran matematika yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan Yusuf (2010:34), Tujuan pembelajaran matematika dalam KTSP yaitu (1) mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinal, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba, (2) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, garfik, peta, diagram di dalam menjelaskan gagasan, (3) menguasai kompetensi dasar pada setiap materi pembelajaran termasuk kompetensi dasar dalam integral, khususnya sub pokok bahasan luas sebagai limit jumlah, integral tentu, dan penggunaan integral tentu untuk menghitung luas daerah serta menghitung volume benda putar.
            Menurut Rohana (2011:111) Dalam memahami konsep matematika diperlukan kemampuan generalisasi serta abstraksi yang cukup tinggi. Sedangkan saat ini penguasaan peserta didik terhadap materi konsep – konsep matematika masih lemah bahkan dipahami dengan keliru. Sebagaimana yang dikemukakan Ruseffendi (2006:156) bahwa terdapat banyak peserta didik yang setelah belajar matematika, tidak mampu memahami bahkan pada bagian yang paling sederhana sekalipun, banyak konsep yang dipahami secara keliru sehingga matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, ruwet, dan sulit. Padahal pemahaman konsep merupakan bagian yang paling penting dalam pembelajaran matematika seperti yang dinyatakan Zulkardi (2003:7) bahwa ”mata pelajaran matematika menekankan pada konsep”. Artinya dalam mempelajari matematika peserta didik harus memahami konsep matematika terlebih dahulu agar dapat menyelesaikan soal-soal dan mampu mengaplikasikan pembelajaran tersebut di dunia nyata. Konsep-konsep dalam matematika terorganisasikan secara sistematis, logis, dan hirarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Pemahaman terhadap konsep-konsep matematika merupakan dasar untuk belajar matematika secara bermakna.
   Untuk mencapai pemahaman konsep peserta didik dalam matematika bukanlah suatu hal yang mudah karena pemahaman terhadap suatu konsep matematika dilakukan secara individual. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memahami konsep – konsep matematika. Namun demikian peningkatan pemahaman konsep matematika perlu diupayakan demi keberhasilan peserta didik dalam belajar. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalah tersebut, guru dituntut untuk profesional dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu mendesain pembelajaran matematika dengan metode, teori atau pendekatan yang mampu menjadikan siswa sebagai subjek belajar bukan lagi objek belajar
Berdasarkan hasil peneliti TIM PPM Universitas Sriwijaya tahun 2011, bahwa salah satu pokok bahasan yang menjadi persoalan guru dan siswa dilapangan adalah materi integral. Banyak siswa mengalami kesulitan ketika memahami konsep sehingga tidak bisa menyelesaikan soal-soal, begitu juga cara guru menyampaikan materi tersebut mengalami kesulitan karena banyaknya hal yang abstrak atau imajinatif yang sulit dipikirkan siswa sehingga siswa tidak mengerti.
Hal ini khususnya terjadi pada siswa SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III, kenyataanya hanya beberapa siswa kelas XII Program IPA SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III tahun pelajaran 2010/2011 yang dapat mencapai kompetensi dasar secara untuh, ditunjukan dengan tabel dibawah ini.
Tabel 1.1  Kategori Nilai KKM Siswa SMA Plus 2 Banyuasin III
Kelas
XI IPA 1
XI IPA 2
Baik
(KKM>90)
Cukup
(KKM 75-90)
Kurang
 (KKM<75)
Baik
 (KKM>90)
Cukup
(KKM 75-90)
Kurang
(KKM<75)
Jumlah siswa
23,81%
(5 org )
33,33%
(7 org)
42,,86%
(9 org)
21,74%
(5 org )
47,82%
(11 org)
30,43%
(7 org)
% Klasikal
57,14 %
69,56 %
 sumber : Arsip Nilai KKM siswa SMA Plus N 2 Banyuasin III tahun 2010-2011
 Dari data diatas untuk pokok bahasan integral yang telah diajarkan, ternyata secara individu banyak siswa nilai dibawah KKM artinya banyak siswa yang belum tuntas, dan secara klasikal belum dicapai ketuntasan belajar 75 %. Sehingga dapat dikatakan rendahnya nilai siswa karena siswa kesulitan memahami konsep integral.
Untuk itu perlu dilakukan suatu model pembelajarn yang inovatif yang dapat membantu siswa memahami konsep integral. Menurut Suherman (2003:218) Model Pembelajaran Cooperatif Learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencaoai tujuan bersama lainnya. Cooperatif learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesame sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas.
Pemilihan media pembelajaran dengan interaktif berbasis computer diharapkan  menimbulkan minat sekaligus kreativitas dam motivasi siswa dalam mempelajari matematika. Menurut Depdiknas (2:2003), Dalam dunia Pendidikan dan pembelajaran, peran media juga tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu komponen pembelajaran, media tidak bisa luput dari pembahasan sistem pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru dalam setiap pembelajaran. Henich dkk (dalam depdiknas, 2003:23) sekian banyak jenis media yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, berikut ini klasifikasi media yaitu (1) Media yang tidak diproyeksikan, (2) Media yang diproyeksikan, (3) Media Audio, (4) Media Video, (5) Media berbasis Komputer, dan (6) Multi Media Kit.
Selanjutnya Menurut Wilson (dalam Zulkardi, 2002:46) Pengelompokan suasana pembelajaran atau tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran dalam tiga jenis, yaitu : (1) Berbasis Komputer, (2) Berbasis kelas dan (3) Internet
            Berangkat dari uraian diatas maka penelitian ingin menerapkan kegiatan pembelajaran dengan media berbasis komputer, dikarenakan pengguanaan teknologi terutama media komputer menjadi sebuah cara yang efektif dan efisien dalam pencapaian informasi. Komputer merupakan salah satu teknologi informasi yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika. Banyak hal abstrak atau imajinatif yang sulit dipikirkan peserta didik, dapat dipersentasikan melalui simulasi komputer. Latihan dan percobaan-percobaan eksploratif matematika dapat dilakukan peserta didik dengan menggunakan program-program sederhana untuk penanaman dan penguasaan konsep, membuat model matematika, dan penyusunan strategi dalam memecahkan masalah.
            Berangkat dari hal itulah penulis menyampaikan gagasan untuk menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis Komputer sederhana untuk pemahaman konsep integral di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dapat dimunculkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.       Bagaimana skenario pembelajaran matematika cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer pada pokok bahasan integral kelas XII program IPA SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.
2.       Apakah penerapan model pembelajaran cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat meningkatkan keaktifan siswa.
3.       Apakah penerapan model pembelajaran cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat meningkatkan pemahaman konsep integral





C.     TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian ini diharapkan dapat :
1.       Menemukan format skenario membelajarkan matematika cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer pada pokok bahasan integral kelas XII program IPA SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.
2.       Meningkatkan keaktifan siswa dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat meningkatkan pemahaman konsep integral
3.       Mengetahui sejauh mana pengaruh model pembelajaran cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat meningkatkan pemahaman konsep.
                                                                                                                  
D.     MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini penulis harapkan dapat bermanfaat :
1.         Bagi Siswa, Memberikan nuansa baru suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep tentang integral, keaktifan, dan hasil belajar siswa.
2.         Bagi Guru, diperolehnya suatu kreativitas variasi pembelajaran yang lebih menekankan pada tuntutan kurikulum satuan pendidikan (KTSP 2008), yakni member banyak keaktifan pada siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran demi tercapainya kompetensi dasar dalam pembelajaran matematika
3.         Bagi Sekolah, diperoleh bahan referensi yang dijadikan ketepatan implementasi pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
4.       Bagi Peneliti, khusunya program studi Pasca sarjana Pendidikan Matematika UNSRI memiliki prototype model pembelajaran cooperative learning dengan media pembelajaran interaktif berbasis komputer pada pokok bahasan integral kelas XII program IPA SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.





E.      PEMBAHASAN

1.       Teori Belajar Matematika
            Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahapan-tahapan tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajr terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut :
a.       Tahap Enaktif
Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata
b.       Tahap Ikonik
Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual image), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan secara konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif.
c.       Tahap Simbolik
Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik simbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang abstrak lainnya.

                        Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik.

2.       Pembelajaran Matematika

            Menurut Rambu-rambu Pelaksanaan GBPP Matematika (dalam suherman 64:2003) secara singkat ; gunakanlah model atau metode atau strategi  atau pendekatan yang melibatkan siswa secara aktif, pengajaran disesuaikan dengan kekhasan kosep/pokok bahasan/sub pokok bahasan dan tahap perkembangan berpikir siswa, penggunaan buku sesuai dengan kurikulum, penggunaan sarana yang tepat, serta pembuatan rencana pengajaran.
                        Menurut Suherman (2003:8) Pembelajaran  adalah upaya penataan lingkungan yang memberikan nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Proses pembelajaran dalam arti sempit adalah proses pendidikan dengan lingkungan persekolahan, sehingga terjadi sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa. Menurut Sanjaya (2005:99) Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu strtegi agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Tanpa suatu strategi yang cocok, tepat dan jitu, tidak mungkin tujuan dapat tercapai. Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model/strategi/pendekatan pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajar.               
3.       Model Cooperatif learning dalam Pembelajaran Matematika

Menurut Suherman (218:2003) Coopertif learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Cooperatif learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas.
 Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif. Menurut Suherman (2003:218) Hal-hal yang harus dipenuhi dalam coperatif learning :
a.                   Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian tujuan bersama.
b.                   Para siswa dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka pecahkan adalah masalah kelompok, dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersamaoleh seluruh anggota kelompok.
c.                   Untuk mencapaian hasil maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapi.
d.                   Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

Fatimah (2010:13) karakteristik pembelajaran kooperatif, antara lain :  Pertama, saling ketergantungan dan interaksi tatap muka yang positif. Kedua, pertanggungjawabannya bersifat perorangan. Ketiga, kemampuan interaksi antara individu dan bekerja dalam kelompok kecil. Keempat, proses berlangsung dalam kelompok. Selajutnya Fatimah (2010:13) mengemukakan peran siswa dalam pembelajaran kooperatif. Pertama, membuat keputusan-keputusan. Kedua, menyiapkan pelajaran. Ketiga, mengawasi dan mengintervensi. Keempat, Mengevaluasi dan memperoses.  
Seorang guru harus memiliki kemampuan pada bidang strategi dan model pembelajaran matematika yang bervariasi. Model pembelajaran yang digunakan harus tepat dan sesuai dengan kondisi peserta didik, baik usia, waktu, maupun variabel lainnya, dan yang lebih penting lagi metode pembelajaran harus tetap mengacu kepada hakikat matematika dan juga teori belajar.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang harus digeluti, dipikirkan, dan dikonstruksi oleh siswa, tidak dapat ditransfer kepada mereka yang hanya menerima secara pasif. Dengan demikian siswa sendirilah yang harus aktif.
Satu inovasi yang menarik yang mengiringi perubahan paradigma tersebut adalah ditemukan dan diterapkannya model-model pembelajaran inovatif dan konstruktif. Pembelajaran yang bernaung dalam teori yang konstruktivis adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Menurut Eggen and Kauchak (dalam Trianto,2007:58), “Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama”.
 Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinterakasi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya.
Terdapat 6 (enam) langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Cooperatif Learning
Fase
Aktivitas Siswa
Aktivitas Guru
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Siswa memperhatikan guru
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotiasi belajar siswa.
Fase-2
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
Siswa didalam kelas membentuk kelompok kecil  yang terdiri dari 2/5 orang

Siswa diberikan bahan ajar berupa LKS/ringkasan materi yang akan dipelajari.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase-3
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Setiap kelompok siswa mendiskusikan tugas yang diberikan oleh guru, setiap kelompok mencatat hasil diskusi.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase-4
Evaluasi
siswa dalam kelompok tertentu untuk melaporkan hasil diskusinya
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase-5
Memberikan penghargaan
Siswa menanggapi hasil presentasi kelompok yang telah memaparkan didepan kelas.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Fase-6
Penutup dan Kesimpulan
Siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari
4.       Media Dalam Pembelajaran Matematika

            Menurut Depdiknas (2003:9) Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu  yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Selanjutnya Gagne (dalam Depdiknas, 2003:10) mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar, senada dengan itu Briggs (dalam Depdiknas, 2003:10) mengartikan media sebgai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar. Alat peraga, alat bantu guru, alat bantu audio visual (AVA) merupakan konsep media. Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan memperagakan fakta, konsep, prinsip atatu prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/kongkrit. Alat bantu adalah alat yang digunakan oleh guru untuk mempermudah tugas dalam mengajar.
            Menurut Heinich dkk (dalam suherman, 2003:199) Menyatakan bahwa keseluruhan sejarah, media dan teknologi telah mempengaruhi pendidikan. Pada masa kini misalnya komputer telah memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap seting pembelajaran. Alat-alat yang demikian menawarkan kemungkinan untuk menjadi lebih baik dalam proses belajar mengajar. Peran guru dan siswa jelas menjadi berubah karena pengaruh media dan teknologi didalam kelas. Kini guru dan buku bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar atau ilmu pengetahuan. Guru menjadi pengarah untuk akses ke dalam ilmu pengetahuan.
            Menurut Suherman (2003:200) Pada dasarnya media terkelompok kedalam dua bagian, yaitu media sebagai pembawa informasi (ilmu pengetahuan), dan media yang sekaligus merupakan alat untuk menanamkan konsep seperti alat-alat peraga pembawa pesan dan alat peraga matematik.
            Menurut Heinich dkk (dalam suherman, 2003:199) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan susunan dari informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar, Dengan menggunakan lingkungan ini dimaksudkan bukan hanya di mana pembelajaran berlangsung, melainkan metode, media, peralatan yang diperlukan untuk memberikan informasi, dan membimbing siswa belajar. Penyusunan informasi dan pembenahan lingkungan belajar  umumnya tanggung jawab dari pengajar dan pendesain media. Pemilihan strategi pembelajaran menentukan lingkungan (metode, media, peralatan, dan fasilitas) serta cara informasi itu dirakit dan digunakan. Pendekatan pembelajaran yang dikontrol oleh guru tentu sangat dominan, guru senantiasa untuk merencanakan proses pembelajaran. Bekerja sama dengan guru-guru dan ahli media, bagi guru dapat mengintegrasikan media ke dalam proses pembelajarannya sehingga dapat memperbesar perolehannya yang berdampak pada peningkatan prestasi siswa.  
            Menurut suherman (2003:200) Secara tradisional metode atau model atau pendekatan pembelajaran telah jelas sebagai “ bentuk presentasi” seperti ceramah dan diskusi. Disini dibedakan metode pembelajaran dan media pembelajaran. Metode adalah prosedur pembelajaran yang dipilih untuk membantu para siswa mencapai tujuan atau menginternalisasikan isi atau pesan. Sedangkan media pembelajaran sebagai pembawa-pembawa informasi dari pemberi pesan ke penerima pesan. Beberapa metode pembelajaran antara lain, presentasi, demonstrasi, diskusi, drill dan latihan, tutorial, cooperative learning group, permainan, simulasi, penemua dan problem solving .

5.       Pemahaman Konsep Matematika

Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan yaitu agar mahasiswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya. Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena dengan pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur.
            Mulyasa (2005 : 78) menyatakan bahwa pemahaman adalah kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu, Setiap materi pembelajaran matematika berisi sejumlah konsep yang harus disukai siswa. Pengertian konsep Menurut Ruseffendi (1998:157) adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan kita untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan objek atau kejadian itu merupakan contoh dan bukan contoh dari ide tersebut.
Pemahaman konsep sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran diusahakan lebih ditekankan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran, komunikasi, koneksi dan pemecahan masalah.
            Penguasan konsep merupakan tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat mendefinisikan atau menjelaskan sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran dengan menggunakan kalimat sendiri. Dengan kemampuan siswa menjelaskan atau mendefinisikan, maka siswa tersebut telah memahami konsep atau prinsip dari suatu pelajaran meskipun penjelasan yang diberikan mempunyai susunan kalimat yang tidak sama dengan konsep yang diberikan tetapi maksudnya sama.
            Menurut Sanjaya (2009) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu mengungkapan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
            Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan definisi pemahaman konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengemukakan kembali ilmu yang diperolehnya baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan kepada orang sehingga orang lain tersebut benar-benar mengerti apa yang disampaikan.
            Mengingat pentingnya pemahaman konsep tersebut, Menurut Hiebert dan Carpenter (dalam Dafril: 2011). Pengajaran yang  menekankan kepada pemahaman mempunyai sedikitnya lima keuntungan, yaitu:
1.       Pemahaman memberikan generative artinya bila seorang telah memahami suatu konsep, maka pengetahuan itu akan mengakibatkan pemahaman yang lain karena adanya jalinan antar pengetahuan yang dimiliki siswa sehingga setiap pengetahuan baru melaui keterkaitan dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
2.       Pemahaman memacu ingatan artinya suatu pengetahuan yang telah dipahami dengan baik akan diatur dan dihubungkan secara efektif dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain melalui pengorganisasian skema atau pengetahuan secara lebih efisien di dalam struktur kognitif berfikir sehingga pengetahuan itu lebih mudah diingat.
3.       Pemahaman mengurangi banyaknya hal yang harus diingat artinya jalinan yang terbentuk antara pengetahuan yang satu dengan yang lain dalam struktur kognitif siswa yang mempelajarinya dengan penuh pemahaman merupakan jalinan yang sangat baik.
4.       Pemahaman meningkatkan transfer belajar artinya pemahaman suatu konsep matematika akan diperoleh siswa yang aktif menemukan keserupaan dari berbagai konsep tersebut. Hal ini akan membantu siswa untuk menganalisis apakah suatu konsep tertentu dapat diterapkan untuk suatu kondisi tertentu.
5.       Pemahaman mempengaruhi keyakinan siswa artinya siswa yang memahami matematika dengan baik akan mempunyai keyakinan yang positif yang selanjutnya akan membantu perkembangan pengetahuan matematikanya.




Indikator Pemahaman Konsep
           
Menurut Sanjaya (2009) indikator yang termuat dalam pemahaman konsep diantaranya :
1.        Mampu menerangka secara verbal mengenai apa yang telah dicapainya
2.       Mampu menyajikan situasi matematika kedalam berbagai cara serta mengetahui perbedaan,
3.       Mampu mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut,
4.       Mampu menerapkan hubungan antara konsep dan prosedur,
5.       Mampu memberikan contoh dan contoh kontra dari konsep yang dipelajari,
6.       Mampu menerapkan konsep secara algoritma,
7.       Mampu mengembangkan konsep yang telah dipelajari.
           
            Pendapat diatas sejalan dengan Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2001 tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator siswa memahami konsep matematika adalah mampu :
1.       Menyatakan ulang sebuah konsep,
2.       Mengklasifikasi objek menurut tertentu sesuai dengan konsepnya,
3.       Memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep,
4.       Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis,
5.       Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep,
6.       Menggunakan dan memanfaatkan  serta memilih prosedur atau operasi tertentu,
7.       Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah.

            Mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika maka perlu diadakan penilaian terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika. Tentang penilaian perkembangan anak didik dicantumkan indikator dari kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar matematika Tim PPPG Matematika 2005:86 (dalam Dafril, 2011) Indikator tersebut adalah :
1)       Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep adalah kemampuan siswa untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya;
Contoh: pada saat siswa belajar maka siswa mampu menyatakan ulang maksud dari pelajaran itu.
2)       Kemampuan mengklafikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsep adalah kemampuan siswa mengelompokkan suatu objek menurut jenisnya berdasarkan sifat-sifat yang terdapat dalam materi.
Contoh: siswa belajar suatu materi dimana siswa dapat mengelompokkan suatu objek dari materi tersebut sesuai sifat-sifat yang ada pada konsep.
3)       Kemampuan memberi contoh dan bukan contoh adalah kemampuan siswa untuk dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu materi.
Contoh: siswa dapat mengerti contoh yang benar dari suatu materi dan dapat mengerti yang mana contoh yang tidak benar
4)       Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika adalah kemampuan siswa memaparkan konsep secara berurutan yang bersifat matematis.
Contoh: pada saat siswa belajar di kelas, siswa mampu mempresentasikan/memaparkan suatu materi secara berurutan.
5)       Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep adalah kemampuan siswa mengkaji mana syarat perlu dan mana syarat cukup yang terkait dalam suatu konsep materi.
Contoh: siswa dapat memahami suatu materi dengan melihat syarat-syarat yang harus diperlukan/mutlak dan yang tidak diperlukan harus dihilangkan.
6)       Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu adalah kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan tepat sesuai dengan prosedur. Contoh: dalam belajar siswa harus mampu menyelesaikan soal dengan tepat sesuai dengan langkah-langkah yang benar.
7)       Kemampuan mengklafikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah adalah kemampuan siswa menggunakan konsep serta prosedur dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Contoh: dalam belajar siswa mampu menggunakan suatu konsep untuk memecahkan masalah.
            Pelajaran matematika sering merupakan momok bagi para siswa. Banyak siswa dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi yang membenci mata pelajaran  ini. Kesulitan yang harus dihadapi dengan berbagai penggunaan logika dan rumus dalam menyelesaikan soal merupakan kendala dan permasalahan besar. Namun ada teori belajar matematika yang sebenarnya mudah untuk dilakukan. Menurut Suherman (2001) Dengan menerapkan teori ini, matematika bukanlah  menjadi mata pelajaran yang harus dihindari. Teori tesebut yaitu:
a.       Memahami konsep dan bukan menghapal rumus, maksudnya teori belajar matematika pertama yang harus diingat adalah bahwa belajar matematika berarti memahami konsep untuk setiap soal yang dihadirkan. Walau di dalam matematika ada rumus yang harus dihapal, namun inti dari pelajaran matematika adalah pemahaman. Seberapa hebat anda dalam menghafal berbagai rumus matematika, tidak akan bermanfaat jika konsep dasarnya tidak dipahami. Pemahaman konsep menjadi modal utama dalam menguasai pelajaran matematika. Itulah teori belajar matematika yang paling utama yang harus dikuasai terlebih dahulu.
b.       Belajar dari contoh soal, maksudnya memahami konsep bisa dilakukan dengan cara membaca berbagai uraian pelajaran matematika. Namun teori saja tidak akan dapat membuat pemahaman secara lengkap. Diperlukan juga praktik  yang artinya Anda harus belajar dari berbagai soal. Teori belajar matematika kedua yang juga sangat mudah dilakukan adalah belajar dari contoh soal. Uraian teori yang anda peroleh harus anda terapkan di dalam berbagai contoh soal. Dengan melihat bagaimana teori dalam menyelesaikan berbagai soal, anda akan lebih mampu lagi memahami konsep secara menyeluruh. soal-soal inilah yang merupakan refleksi dari bahan pelajaran sebenarnya.
                 Berdasarkan pendapat diatas bahwa pemahaman konsep matematika sangatlah penting dikuasai oleh siswa, sehinga siswa tidak lagi hanya menghapal rumus tetapi dia benar-benar memahami konsep matematika kemudian pemahaman konsep juga bisa mudah dipahami dengan belajar dari contoh-contoh soal matematika itu sendiri.













DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas
_________. 2006 a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standar Kompetensi SMP dan MTs. Jakarta: Depdiknas.
________. 2006 b. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas
__________. 2008. Perangkat Pembelajaran KTSP SMA. Jakarta : Depdiknas
________________. Perangkat Penilaian KTSP SMA. Jakarta : Depdiknas
Dafril, A. 2011. Pengaruh Pendekatan Konstruktivisme Terhadap Peningkatan Pemahaman Matematika Siswa. Palembang : Prosiding PGRI. hal 795-796
Fatimah, siti & dkk. 2010. Model-model Pembelajaran. Palembang : Universitas Sriwijaya
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ruseffendi, E.T.. 2006. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Rohana. 2011. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Pemahaman Konsep Mahasiswa FKIP Universitas PGRI. Palembang : Prosiding PGRI
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Slavin, Robert E. Educational Psychology: Theory and Practice (Development During Childhood and Adolescence). Allyn and Bacon Paramount Publishing, Massachusetts, 1994.
Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA. Universitas Pendidikan Indonesia
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Yusuf, Muhammad. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa melalui lembar Kerja Siswa (LKS) Interaktif Berbasis Komputer Di SMA Muhammadiyah 1 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No.2 hal.34-44. Palembang: PPS UNSRI
Zulkardi. 2003. Pendidikan Matematika di Indonesia : Beberapa Permasalahan dan Upaya Penyelesaiannya. Palembang: Unsri.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan Tinggal Komentarnya

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

BUKU TAMU

PENGIKUT

FACEBOOK